Prolog

Jujur saja, ngeblog is not my hobby. Ngeblog just iseng-isengan ae lah. Blog ini cuma buat nuangin segala isi hati, kepala, telinga, dada, kaki alias sikil, tangan, dan organ tubuh saya yang lainnya, termasuk yang rahasia itu. Nama saya juga seperti sebuah keisengan, Pangeran Shry Naga Poespa. Bermarga Naga menjadi sebuah kebanggaan, bukan sekedar hobi tentunya. Lahir di Canary, pada 09 Juni 1990. Menjadi penengah atau anak ke-4 dari 6 bersaudara. Beristrikan Intan Rafika Permata Hati. Putri cantik dan mempesona dari Loktuan-Bontang. Memiliki cita-cita sebagai insan paripurna. Misalnya, menjadi petani dengan pekerjaan sampingan sebagai rektor sebuah perguruan tinggi.

Berita Kita

Semoga artikel, opini, puisi, atau apapun yang ada dalam blog ini bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Selasa, 23 Oktober 2012

SUMPAH PEMUDA DAN PERAN MAHASISWA

Memperingati hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang, Rekreasi dalam Kreasi  akan menyajikan postingan tentang momen tersebut sekaligus kaitannya dengan mahasiswa Indonesia.


Sudah 84 tahun sejak ikrar persatuan para pemuda, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda, dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928, pemuda Indonesia tetap menjadi sorotan. Sumpah yang dibacakan di sebuah pondokan pelajar dan mahasiswa ini, tepatnya di Jalan Kramat Raya 106, hanyalah sekelumit dari peristiwa-peristiwa berkaitan dengan peran pemuda, khususnya mahasiswa, dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa-peristiwa ini pula yang semakin mengukuhkan mahasiswa sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan berkembang di negeri ini. Kenapa mahasiswa? Karena sosok yang satu ini merupakan representasi dari kaum pemuda bangsa ini.
Leksikon sejarah seperti ini kini menjadi urgen untuk direfleksikan dan direaktualisasi, sehubungan dengan kondisi pasang surut peran mahasiswa dalam mengawal perjalanan bangsa ini. Kita pernah dibuat bangga dengan partisipasi mahasiswa dalam proses terbentuknya beberapa kebijakan di negeri ini. Salah satunya, dan yang paling monumental, adalah ketika tahun 1998 mahasiswa Indonesia berhasil menggulingkan supremasi Orde Baru yang dinilai tidak membawa kemakmuran bagi rakyat bangsa ini.
Akan tetapi, beberapa tahun setelah terjadinya peristiwa reformasi tersebut, dunia mahasiswa Indonesia dirundung oleh beberapa kejadian yang mencoreng muka mahasiswa itu sendiri. Ya, momen Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang justru dibuka dengan peristiwa-peristiwa miris di lingkungan pemuda kita. Tentu kita masih ingat peristiwa tawuran pelajar beberapa waktu lalu, kemudian disusul dengan tawuran antar mahasiswa di salah satu kampus besar di Sulawesi Selatan.
Peristiwa tawuran seperti ini tidak dapat dipungkiri justru memberi kesan tidak adanya persatuan di antara mahasiswa kita. Persatuan mahasiswa, yang oleh Muhammad Yamin, terbentuk oleh dari aspek sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan, kini mulai tersisihkan oleh aspek-aspek lain yang mungkin lebih bersifat politis. Memang belakangan muncul asumsi bahwa perpecahan di antara mahasiswa disebabkan oleh kekuatan politis yang menyusup ke dalam tubuh mahasiswa kita, guna memecah belah kekuatan mahasiswa yang seringkali memberikan protes dan gerakan perlawanan terhadap hegemoni dan kebijakan yang tidak pro-rakyat.
Terlepas dari asumsi di atas, masyarakat Indonesia tentunya sangat merindukan gerakan mahasiswa yang memperjuangkan keinginan dan hasrat untuk sejahtera. Adalah sebuah kewajiban bagi mahasiswa untuk terus mengejawantahkan rumusan fungsinya ke dalam praktik keseharian. Peristiwa Boedi Oetomo tahun 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, hingga reformasi pada tahun 1998, adalah bukti sahih yang menunjukkan bahwa mahasiswa adalah lokomotif yang membawa aspirasi rakyat bangsa ini. Peran mahasiswa sangat dituntut implementasinya, salah satunya disebabkan oleh tidak efektifnya lembaga perwakilan rakyat di negeri ini dalam menyampaikan aspirasi dari bawah. Pada saat inilah mahasiswa, mewakili kaum muda, berfungsi sebagai corong yang menyuarakan aspirasi rakyat kita.
Jelaslah, ketika parlemen kita lesu dalam menyambung lidah rakyat, mahasiswa seharusnya semakin maju dan berani menampakkan fungsinya. Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang hanyalah satu momen penting untuk merefleksikan kembali fungsi substantif mahasiswa. Langkah-langkah politis dari beberapa kalangan seharusnya tidak sampai memporakporandakan persatuan mahasiswa, apalagi sampai pada tahap saling membunuh. Pada akhirnya, mahasiswa harus menyadari fungsinya sebagai gerbong yang memikul semua keingingan rakyat. Dan yang terpenting, fungsi dan peran ini semestinya selalu direfleksikan untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata.



Oleh    : Pangeran S Naga P
            Mahasiswa Fakulas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga

*dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat edisi Selasa, 23 Oktober 2012

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2011. Rekreasi Dalam Kreasi . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by Herdiansyah . Published by Borneo Templates